| |
INTERVENSI BARU DALAM TERAPI
GANGGUAN PENDENGARANn
Gangguan pendengaran adalah gangguan sensoris yang paling
sering ditemukan dalam populasi. Sekitar 1 dari 800
anak lahir dengan gangguan pendengaran serius dan lebih
dari 60% orang berusia di atas 70 tahun menderita hilang
pendengaran yang harus dibantu dengan alat bantu dengar.
Bagi sebagian kecil penderita yang mengalami tuli total
sejak kanak-kanak, bahasa isyarat mungkin bermanfaat.
Tetapi, untuk sebagian besar sisanya yang terganggu
pendengarannya, manfaat itu kurang dapat dirasakan.
Hal ini sering menimbulkan isolasi sosial ditambah dengan
keterbatasan dalam segi ekonomi dan pendidikan.
Implantasi koklear telah menjadi pilihan dalam terapi
tuli total. Untuk gangguan pada telinga tengah seperti
otosklerosis, terapi pilihannya adalah pembedahan. Tetapi,
sampai saat ini belum ada pengobatan selain bedah bagi
mereka yang mengalami gangguan pendengaran sensorineural.
Pengetahuan akan peran genetik dalam ketulian memberi
harapan bagi berkembangnya pengobatan baru. Secara umum,
ada anggapan bahwa sebagian kasus tuli pada anak disebabkan
oleh mutasi gen tunggal, sedangkan sisanya oleh lingkungan.
Meski demikian, sangat besar kemungkinan bahwa genetik
dan lingkungan berinteraksi. Meskipun ada determinan
lingkungan yang jelas, seperti individu yang secara
genetik memiliki predisposisi kehilangan pendengaran
yang diinduksi bising, obat, atau infeksi. Ada satu
mutasi khusus (A1555G dalam mitokondria gen 12SrRNA)
diketahui sebagai pembawa predisposisi ketulian yang
diinduksi antibiotik aminoglikosida. Gen tunggal, GJB2,
yang mengkode molekul connexin 26, telah diketahui berperan
utama dalam tuli genetik di banyak populasi Barat. Connexin
26, yang sering dikaitkan dalam tuli non-sindromik,
merupakan komponen gap junction antar sel yang terlibat
dalam pendauran kalium setelah depolarisasi sel rambut.
Beberapa kehilangan pendengaran pada masa kanak dapat
menjadi progresif pada bulan atau tahun pertama kehidupan.
Diagnosis dini gangguan pendengaran anak akan esensial
jika kemampuan pendengaran ingin diselamatkan. Diagnosis
dini dan akurat harus dilakukan agar dapat dilakukan
intervensi sebelum proses degenerasi makin lanjut. Diagnosis
dini berarti melakukan skrining pada DNA individu untuk
mencari mutasi yang diketahui berhubungan dengan meningkatnya
kerentanan untuk kehilangan pendengaran. Setelah itu,
dapat dilakukan tatalaksana yang sesuai, yang meliputi
perubahan gaya hidup (seperti menghindari lingkungan
yang bising atau obat ototoksik), imunisasi jika kerentanan
ini dicurigai diinduksi oleh infeksi, atau pemberian
obat untuk meringankan efek mutasi dalam menyebabkan
hilang pendengaran progresif.
Intervensi yang paling jelas untuk defek genetik adalah
terapi gen. Bentuk paling sederhana terapi gen berupa
pengenalan versi normal gen yang mengalami defek pada
sel yang sesuai dan berharap sel tersebut akan menggunakan
versi normal ini. Pendekatan alternatif adalah pemberian
obat yang memiliki akses langsung ke sel target. Dapat
pula dibuat jalur alternatif, misalnya, connexin lain
mungkin bisa menggantikan connexin 26 dalam membentuk
gap junction. Gen GJB2 yang mengkode connexin 26 ini
tidak secara normal diekspresikan di koklea. Karena
itu dapat dikembangkan obat untuk meningkatkan ekspresi
connexin alternatif dalam sel yang membutuhkan pembentukan
gap junction baru.
Sel rambut dalam koklea sangat rentan terhadap gangguan
homeostasis dan cenderung mati jika mereka tidak dapat
berfungsi normal, demikian yang terjadi pada tuli genetik.
Kematian sel rambut akibat gangguan lingkungan juga
dapat menjadi penyebab hilang pendengaran. Sel rambut
yang sudah mati tidak digantikan secara alami. Salah
satu peluang dalam mengobati tuli adalah dengan mengetahui
cara mendorong regenerasi sel rambut koklea atau mendorong
sel rambut baru untuk tumbuh dari sel jenis lain. Manfaat
regenerasi ini dapat diabaikan pada sel rambut yang
tidak berfungsi akibat defek genetik. Untuk mereka yang
mengalami tuli genetik dapat dipertimbangkan kombinasi
antara regenerasi sel rambut dengan terapi gen untuk
menggantikan gen yang mengalami defek. (british medical
association/wenni)
Sumber : WARTA MEDIKA
http://www.tempo.co.id/medika/arsip/052002/war-3.htm
|
|