| |
SINDROM PRA-HAID !
Oleh: Dr med Ali Baziad SpOG, K-FER
Datangnya haid merupakan saat yang selalu dinantikan
oleh kebanyakan kaum wanita.
Bila sampai haid terlambat datang, maka akan timbul
kekwatiran, jangan-jangan telah terjadi sesuatu pada
tubuh wanita tersebut.
Kalau hanya sekedar haid terlambat, biasanya bagi kebanyakan
dokter tidak begitu sulit untuk mengatasinya. Dengan
memberikan obat-obat pemancing haid, masalah dapat diatasi.
Namun ada satu masalah lain lagi bagi sebagian kaum
wanita, yaitu saat-saat haid akan muncul, akan selalu
disertai dengan rasa ketakutan. Kalau bisa, lebih baik
haid tidak usah datang.
Biasanya 7 sampai 10 hari menjelang haid, timbul rasa
cemas, cepat marah, mudah tersinggung, rasa takut atau
gelisah yang berlebihan, badan lemas, perut kembung,
nyeri payudara, susah tidur, nafsu makan berkurang,
sulit berkonsentrasi.
Suami yang tidak tahu apa-apa sering dimarahi, sehingga
tidak jarang suami yang datang ke dokter, menceritakan
tentang kelainan yang di alami istrinya.
Keluhan-keluhan tersebut di atas merupakan suatu kelainan,
yang dikenal dengan istilah sindroma pra haid, atau
premenstrual dysphoric disorder (PPMD). Kelainan ini
sangat banyak ditemukan pada wanita usia reproduksi
dan usia menjelang menopause. Yang khas dari kelainan
ini adalah, keluhan muncul saat menjelang haid, dan
akan hilang
dengan sendirinya begitu haid datang.
Masalah utama yang ditimbulkan oleh PPMD ini ialah gangguan
pada diri wanita sendiri dan keluarganya, kerugian dalam
bidang industri dan komersial, serta dalam skala yang
lebih besar adalah kerugian pada ekonomi nasional. Masalah
tersebut dikaitkan dengan penurunan produktivitas kerja
akibat peningkatan absensi kehadiran, kegiatan di tempat
kerja terganggu selama 7 sampai 10 hari, dan ini sama
dengan 84 - 120 hari per tahun, dan merupakan suatu
kehilangan personal dan sosial yang bermakna.
Penyebab pasti dari PPMD belum diketahui hingga kini.
Banyak teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli.
Salah satunya adalah peranan dari hormon estrogen dan
progesteron.
Umumnya menjelang haid dijumpai peningkatan hormon progesteron,
dan penurunan hormon estrogen. Wanita terlihat lebih
tenang, dapat mengerjakan sesuatu dengan mudah, santai,
namun malas mengerjakan sesuai pekerjaan yang berlebihan.
Begitu haid muncul dan 10 hari setelah haid, di mana
kadar hormon estrogen mulai meningkat, wanita terlihat
sangat aktif, ingin selalu bekerja, dan tidak pernah
diam untuk melakukan sesuatu. Diduga pada kadar estrogen
tertentu di dalam darah, terjadi stimulasi aktivitas
sel-sel otak, sedangkan hormon progesteron menekan aktivitas
sel-sel otak.
Dari keterangan ini, maka diduga pada wanita PPMD dijumpai
peningkatan kadar estrogen yang berlebihan menjelang
haid. Sepanjang pengalaman kami menangani wanita PPMD,
kami temukan peningkatan kadar estrogen darah menjelang
haid. Namun demikian ternyata tidak semua wanita dengan
PPMD kami ditemukan peningkatan kadar estrogen, sehingga
diduga ada faktor lain yang berperan dalam kejadian
PPMD.
Kadar estrogen yang tinggi ini, selain memicu aktivitas
sel-sel otak berlebihan, juga menyebabkan terjadinya
retensi cairan tubuh, seperti di payudara, tungkai,
dan juga di otak. Wanita mengeluh payudara sakit, kaki
terasa berat, dan sakit kepala yang berlebihan, dan
kadang-kadang dapat terjadi kejang. Kejang-kejang menjelang
haid kadang didiagnosis sebagai epilepsi, sehingga tidak
jarang diberikan obat-obat anti kejang.
Karena penyebabnya disebabkan oleh kadar estrogen yang
tinggi, maka pengobatannya adalah dengan pemberian hormon
anti estrogen. hormon anti estrogen yang terkenal adalah
progesteron.
Biasanya progesteron diberikan dengan dosis 10 mg/hari,
dari hari ke 16-ke 25 siklus haid. Untuk mengeluarkan
cairan dari jaringan tubuh, dapat diberikan obat diuretika
sampai menjelang haid berikutnya. Selanjutnya sangat
dianjurkan diet rendah garam.
Perlu disadari, bahwa pengobatan dengan hormon progesteron
memerlukan waktu lama, sehingga sangat dituntut kesabaran
dari pihak wanita. Efek samping yang ditimbulkan oleh
progesteron sangat sedikit. Jenis progesteron yang dianjurkan
adalah jenis progesteron alamiah, seperti didrogesteron,
atau medroksi progesteron asetat (MPA), karena jenis
hormon ini memiliki khasiat antidepresif. Jenis progesteron
sintetik justru menyebabkan depresif (ringan).
Pada keadan tidak dijumpai peningkatan hormon estrogen,
atau tidak respon dengan pengobatan dengan progesteron,
maka dewasa ini, terutama di negara-negara maju, diberikan
obat antidepresan. Salah satu antidepresan yang populer
pada PPMD adalah fluoxetine hydrochlorid. Bila dengan
progesteron maupun antidepresan tetap juga tidak memberikan
hasil, maka perlu dicari predisposisi faktor, yang dapat
menggangu sistim saraf wanita tersebut, seperti stres,
konflik di keluarga, atau di tempat kerja.
Akhir-akhir ini telah dicoba pengobatan dengan menekan
cara keseluruhan fungsi dari ovarium, yaitu dengan menggunakan
Gn-RH, analog, dan hasilnya jauh lebih baik, bila dibandingkan
dengan pemberian progesteron saja. Cuma saja pengobatan
cara ini relatif mahal, dan dapat menimbulkan keluhan
seperti pada wanita menopause, sehingga selama pemberian
Gn-RH-analog harus selalu diberikan tambahan hormon
estrogen dan progesteron. Di Inggris telah dicoba pemakaian
susuk estrogen, dikombinasikan dengan tablet progesteron,
dan dengan pengobatan cara ini, 2/3 wanita dengan PPMD
dapat disembuhkan.
Cara sederhana dan murah untuk menangani PPMD adalah
dengan pemberian pil kontrasepsi kombinasi, atau pil
yang hanya mengandung komponen progesteron saja. Cara
ini sangat cocok digunakan di Indonesia, karena pil
kontrasepsi relatif mudah diperoleh, dan harganyapun
terjangkau.
sumber: Kompas Online, Senin, 10 Januari 2005
http://situs.kesrepro.info/kia/jan/2005/kia01.htm
|
|