|
Meski orangtua
sudah bersusah payah menyediakan berbagai fasilitas,
termasuk pendidikan yang terbaik untuk anak putri mereka,
namun toh orangtua takkan sanggup menghindari godaan
dunia yang semakin menghadang kehidupan remaja global
sekarang ini.
Perkembangan teknologi komunikasi yang menyebar berbagai
informasi dan hiburan budaya pop, kini semakin deras
dan takkan mungkin bisa dibendung hanya dengan mengurng
anak di rumah atau dengan menyediakan berbagai fasilitas
canggih di rumah.
Sesuai dengan perkembangannya, anak-anak putri masa
kini tak mungkin dipingit seperti cerita novel Siti
Nurbaya, karena kehidupan menuntut mereka untuk tampil
lebih luwes dan lebih bergaul dengan dunia luar. Dengan
demikian, berbagai acara darmawisata, diskotik, nonton,
ikut klub olahraga, sudah menjadi bagian acara rutin
remaja.
Hampir semua remaja di belahan dunia mana pun sekarang
ini berada dalam situasi yang penuh godaan dengan semakin
banyaknya hiburan di media yang menyesatkan.
Dengan informasi yang terbatas dan perkembangan emosi
yang masih labil, mereka sudah dihadapkan pada berbagai
godaan seperti film-film Barat yang menawarkan nilai-nilai
sangat bertentangan dengan nilai-nilai budaya Timur.
Itu sebabnya, seorang kepala SMU favorit di Jakarta
sangat terperanjat ketika mengetahui ada siswi yang
terlibat dalam 'transaksi seks' hanya karena dorongan
seks semata bukan uang atau kebutuhan materi lainnya.
Namun yang jelas dari berbagai data empiris yang ada,
sebenarnya anak-anak remaja putri itu sangat membutuhkan
pendidikan seks yang benar. Diakui, sebagian besar masyarakat
memang masih meragukan manfaat pendidikan seks itu bagi
remaja putri, namun dengan melihat semakin membangkaknya
jumlah remaja yang hamil di berbagai belahan dunia,
maka pandangan yang masih ragu-ragu itu agaknya perlu
segera menyadarinya.
KEHAMILAN TAK DIHARAPKAN :
Data terakhir, sekitar 60 persen kelahiran anak di kalangan
remaja di dunia adalah kehamilan yang tak diharapkan.
Satu di antara remaja usia 19 tahun tidak mempunyai
akses untuk mendapat kontrasepsi.
Lebih dari dua pertiga wanita di negara berkembang mendapat
pendidikan kurang dari sembilan tahun, demikian laporan
Alan Guttmacher Institute, suatu lembaga penelitian
kesehatan nonprofit.
"Kehidupan anak-anak muda ini sungguh mengenaskan,"
ujar Jeannie Rosoff, presiden lembaga tersebut.
"Sebagian remaja outri itu terpaksa drop out, karena
harus segera menikah, dan sebagian lagi mengalamai eksploitasi
seks. Namun banyak diantaranya yang tidak ingin menyerah
pada nasib, dan berusaha untuk bangkit mengatasi hidupnya,"
tambahnya.
Ia menyatakan temuannya itu sebagai hasil perbandingan
statistik dari 53 negara di seluruh dunia dengan jumlah
penduduk sekitar 75 persen dari seluruh penduduk dunia.
Ditemukan, bahwa remaja putri di negara berkembang yang
terpaksa keluar dari sekolah, sudah melakukan hubungan
seks di bawah usia 20 tahun, menikah muda dan tidak
pernah menggunaakan kontrasepsi.
Oleh sebab itu, menurut para akhli, hanya dengan pendidikanlah
untuk dapat menyelamatkan remaja putri di seluruh dunia.
"Terbukti, anak-anak yang menikah muda ternyata
menurun tajam di negara-negara yang dengan serius memperhatikan
pendidikan dengan menyediakan akses cukup untuk mendapat
pendidikan, sosial, kesehatan," demikian dilaporkan
lembaga itu.
"Masih di negara berkembang, banyak wanita sudah
mempunyai anak pertama pada usia di bawah 18 tahun,
sementara wanita-wanita di desa-desa dengan pendidikan
tidak menyukai kontrasepsi, dan hampir semuanya terpaksa
melahirkan dan menemui risiko kehamilan yang cukup gawat,"
demikian laporan itu.
Namun masalah ini sebenarnya bukan urusan negara berkembang
saja. Di Amerika Serikat, tujuh di antara 10 remaja
yang melahirkan adalah kelahiran yang tak diinginkan.
Jika mereka mampu menunda beberapa tahun saja untuk
punya anak atau keluarga, mungkin jumlah anak akan lebih
sedikit dan dapat menghindari resiko kehamilan muda,
bahkan mungkin mampu menjadi anggota masyarakat yang
lebiuh produktif.
Bekal iman, pendidikan, pergaulan yang sehat, serta
hubungan yang mesra antara orangtua dengan anak serta
keterbukaan dalam ekeluarga merupakan bekal yang amat
berharga bagi remaja putri agar mereka dapat meniti
kehidupan dengan selamat. (anspek/O-1)
sumber : Media Indonesia Online, 23 November 2003
http://situs.kesrepro.info/krr/des/2003/krr01.htm
|